Menjelajahi Desa Wisata Liang Ndara di Labuan Bajo

by

in

, , , ,
3 Pulau Utama di Labuan Bajo Sumber: indonesia.travel

Labuan Bajo tidak hanya menawarkan keindahan laut dan kawasan Taman Nasional Komodo. Di balik popularitasnya, Manggarai Barat juga memiliki pengalaman wisata alam dan budaya yang menarik untuk dijelajahi, salah satunya Desa Wisata Liang Ndara.

Bagi kalian yang ingin mencoba suasana berbeda saat berkunjung ke Labuan Bajo, desa ini bisa menjadi pilihan selain melihat pemandangan, pengunjung dapat mengenal sejarah setempat, menyaksikan kesenian tradisional, mencoba permainan khas, menikmati makanan lokal, hingga merasakan kehidupan masyarakat melalui homestay.

Desa Wisata Liang Ndara

Nama “Liang Ndara” berkaitan dengan Liang Ndara, yaitu gua yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat setempat. Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, gua tersebut dahulu menjadi tempat berlindung para leluhur dari ancaman penjajah dan binatang liar. Gua ini menjadi bagian penting dari sejarah asal-usul masyarakat Liang Ndara dan hingga kini masih dikenal sebagai salah satu tempat bersejarah di kawasan tersebut.

Letak gua berada di kawasan antara Kampung Waemoto dan Kampung Pau, Desa Compang Liang Ndara keberadaannya menjadi bagian dari warisan sejarah dan budaya masyarakat setempat yang terus dijaga sebagai salah satu potensi wisata sejarah.

Desa Wisata Liang Ndara menawarkan harmoni antara pelestarian budaya Manggarai yang kuat dan suasana alam pegunungan yang menenangkan. Desa ini berada di Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sekitar 20 km dari Labuan Bajo letaknya di kaki Gunung Mbeliling membuat suasana desa terasa berbeda dari kawasan pesisir Labuan Bajo dari beberapa titik di desa, wisatawan juga dapat menikmati pemandangan Kota Labuan Bajo, kawasan Taman Nasional Komodo, serta panorama matahari terbenam di Laut Flores.

Tidak hanya budaya, wisatawan juga bisa menikmati keindahan alam seperti trekking menuju Gua Liang Kantor dan air terjun menjelajahi kawasan hutan Mbeliling, hingga menikmati aktivitas bird watching karena kawasan ini memiliki berbagai jenis burung endemik.

Bagi yang ingin merasakan kehidupan masyarakat lokal, Desa Wisata Liang Ndara juga menyediakan homestay milik warga. Wisatawan dapat tinggal lebih dekat dengan kehidupan Masyarakat menikmati fasilitas yang tersedia, serta merasakan suasana pedesaan secara langsung.

Selain alam, Desa Wisata Liang Ndara juga terkenal dengan budaya Manggarai yang masih dilestarikan. Ada berbagai atraksi budaya yang dapat dinikmati wisatawan, seperti Tari Caci, Tari Ndundundake, Rangku Alu, dan berbagai pertunjukan budaya lainnya.

Mengenal Budaya Manggarai

1. Tari Ndundundake

Tari Ndundundake Sumber: www.indonesia.travel

Tarian ini merupakan salah satu kesenian tradisional yang dapat ditemukan di Liang Ndara. Pertunjukannya menjadi bagian dari pengalaman budaya sekaligus memperlihatkan bagaimana masyarakat setempat menjaga kesenian melalui sanggar-sanggar yang ada di desa.

Dalam pertunjukan Tari Ndundundake terdapat beberapa hal yang dapat diperhatikan, seperti:

  1. Gerakan tari yang dilakukan secara kompak dan berirama
  2. Penggunaan kain atau selendang tenun sebagai bagian dari busana dan properti
  3. Gerakan tangan serta langkah kaki yang mengikuti irama musik tradisional yang mengiringi pertunjukan

Bagi pengunjung, menyaksikan Ndundundake bukan sekadar melihat sebuah tarian. Momen tersebut dapat menjadi kesempatan untuk memahami salah satu bentuk kesenian yang hidup di tengah masyarakat Manggarai.

2. Tari Caci

Penampilan Tari Caci – Sumber: helloflorestours.com

Berbicara tentang budaya Manggarai Barat, tentu tidak lengkap tanpa mengenal Tari Caci. Tarian ini menampilkan pertarungan menggunakan cambuk dan perisai yang dilakukan secara bergantian oleh penari laki-laki. Tari Caci juga dikenal sebagai simbol keberanian dan semangat ksatria masyarakat Manggarai, Di Liang Ndara pertunjukan tersebut dapat disaksikan melalui sanggar budaya masyarakat setempat.

Supaya tidak bingung saat melihatnya secara langsung, berikut gambaran singkat mengenai pertunjukan Caci:

  1. Dua orang atau kelompok akan saling berhadapan dan mengambil peran secara bergantian salah satu penari menggunakan cambuk sedangkan lawannya membawa perisai
  2. Perlengkapan pertunjukan menggunakan material tradisional, termasuk kulit kerbau pada cambuk dan perisai. Para penari juga mengenakan pakaian serta perlengkapan khas Caci
  3. Suasana semakin meriah dengan iringan musik tradisional, nyanyian, dan gerakan para penampil karena memiliki aturan dan tata cara tertentu, pengunjung yang ingin mengikuti aktivitas sebaiknya tetap mengikuti arahan pemandu atau masyarakat setempat

3. Permainan Rangku Alu

Tari Rangkuk Alu khas Manggarai, NTT. (Source: Dispar Manggarai Barat)

Selain kesenian, ada aktivitas tradisional yang tidak kalah seru, yaitu Rangku Alu. Permainan ini menggunakan empat batang bambu panjang yang digerakkan secara ritmis. Pemain harus melompat dan mengatur langkah di antara bambu agar kakinya tidak terjepit. Aktivitas tersebut dilakukan secara berkelompok. Sebagian peserta menjadi penjaga bambu, sedangkan lainnya bermain di bagian tengah.

Kelompok Penjaga

  1. Penjaga bertugas memegang dan menggerakkan bambu secara bersamaan
  2. Bambu digerakkan dengan pola buka-tutup mengikuti irama karena itu gerakan harus dilakukan secara kompak agar pemain di tengah dapat mengikuti celah yang tersedia

Kelompok Pemain

  1. Pemain masuk ke bagian tengah dan melompat mengikuti pergerakan bambu
  2. Ketika ritmenya semakin cepat, konsentrasi dan ketepatan langkah juga semakin dibutuhkan.

Kalau diberi kesempatan mencoba, lebih memilih menjadi pemain yang harus menjaga langkah atau penjaga yang mengatur gerakan bambu?

Rangku Alu bukan hanya mengandalkan kecepatan. Permainan ini juga membutuhkan koordinasi, konsentrasi, kekompakan, dan kemampuan mengikuti irama.

Menginap di Homestay Warga

Pengalaman di Liang Ndara juga dapat dilanjutkan dengan menginap di homestay milik warga. Tinggal di rumah masyarakat memberikan kesempatan untuk merasakan suasana pedesaan secara lebih dekat. Beberapa penginapan menyediakan fasilitas seperti kamar tidur, kamar mandi, sarapan, dan fasilitas pendukung lainnya.

Homestay Sumber: jadesta.kemenpar.go.id
Rumah Tara Sumber: jadesta.kemenpar.go.id

Berdasarkan data Jadesta, beberapa homestay di kawasan tersebut memiliki harga mulai sekitar Rp250.000 per malam sementara itu, Dapur Tara tercantum dengan harga mulai sekitar Rp350.000 per malam. Harga, fasilitas, dan ketersediaan kamar dapat berbeda antara satu penginapan dengan lainnya. Sebaiknya lakukan konfirmasi terlebih dahulu sebelum melakukan pemesanan.

Dapur Tara Flores Owner kaka Liz Preparing Restaurant – Sumber: dapurtara.com

Mencicipi Kuliner Lokal

Makanan khas masyarakat setempat salah satunya adalah ayam asap, Menikmati kuliner tradisional dapat menjadi bagian sederhana dari perjalanan untuk mengenal cita rasa dan kehidupan masyarakat sekitar.

Tertarik Mengunjungi Liang Ndara?

Jika diberi kesempatan memilih, mana yang paling ingin dicoba? Menyaksikan Tari Ndundundake, melihat pertunjukan Caci, atau mencoba Rangku Alu? Atau mungkin justru ingin menginap di rumah warga dan merasakan suasana pedesaan secara langsung?

Dapur Tara Cooking Class Sumber: dapurtara.com

Perjalanan yang berkesan bukan hanya tentang tempat yang kita datangi, tetapi juga tentang budaya dan cerita yang kita bawa pulang.


Eksplorasi konten lain dari Majalah MODEL Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Majalah MODEL Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca